Pernahkah saat memesan di sebuah restoran, saat Anda yang awalnya hanya ingin membeli sebuah burger namun berakhir dengan set burger, kentang, dan cola? Iya pernah, berarti strategi cross selling restoran tersebut terhadap Anda berhasil.

Dalam bisnis, cross selling bukan sekadar menawarkan produk tambahan, melainkan memberikan solusi yang lebih menyeluruh dan meningkatkan kepuasan pelanggan secara keseluruhan.

Simak artikel berikut ini untuk mengetahui lebih lengkap tentang cross selling.

Baca juga: Mengenal Strategi Branding Dalam Bisnis & Pemasaran

Apa itu Cross Selling?

Cross-selling (penjualan silang) adalah strategi pemasaran yang bertujuan untuk menawarkan produk atau layanan tambahan kepada pelanggan yang sudah membeli produk utama.

Dikutip dari Salesforce.com, cross selling adalah proses menawarkan produk atau layanan tambahan yang relevan berdasarkan minat atau pembelian sebelumnya dari pelanggan terhadap produk perusahaan Anda.

Contohnya, jika seorang pelanggan membeli sebuah laptop di sebuah toko elektronik, perusahaan tersebut dapat melakukan cross selling dengan menawarkan aksesori laptop seperti tas, mouse, atau keyboard. Strategi ini biasanya dilakukan dengan menggunakan teknik penjualan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan meningkatkan penjualan perusahaan.

Ini berbeda dengan up selling, yang merujuk pada usaha menjual produk atau layanan yang lebih mahal atau bernilai lebih tinggi kepada pelanggan. Beberapa orang mungkin mengira bahwa cross selling ini sama dengan up selling, padahal keduanya berbeda.

cross selling vs up selling

Apa Tujuan Utama Cross Selling?

Manfaat dan keuntungan yang diharapkan dari penerapan strategi cross selling adalah:

1. Mendukung Pengeluaran Iklan yang Strategis

Cross-selling memberikan opsi untuk mengelola pengeluaran iklan secara lebih strategis. Bisnis dapat mengalokasikan anggaran iklan untuk menarik pelanggan baru dalam satu periode, lalu beralih ke iklan retargeting untuk mendorong pembelian ulang dari pelanggan yang baru diperoleh.

Dengan cara ini, cross-selling dapat membantu bisnis mempertahankan aliran pendapatan meskipun pertumbuhan pelanggan baru melambat, terutama pada periode ekonomi yang tidak menentu. Hal ini membantu mempertahankan profitabilitas tanpa perlu terus-menerus mengandalkan akuisisi pelanggan baru.

2. Memprediksi Pergerakan Stok yang Lebih Tepat

Dengan melakukan cross-selling, bisnis dapat menggabungkan produk terkait dalam bundel, yang tidak hanya menguntungkan bagi pelanggan, tetapi juga memberikan manfaat luas dalam rantai pasokan dan manajemen inventaris.

Karena produk-produk dalam bundel saling terkait, perusahaan dapat membuat proyeksi penjualan dan strategi manajemen inventaris yang lebih terprediksi dibandingkan dengan produk yang tidak memiliki potensi untuk dijual secara bersamaan. Hal ini mempermudah perencanaan stok dan mengurangi ketidakpastian dalam permintaan produk.

3. Meningkatkan Nilai Seumur Hidup Pelanggan (LTV)

Cross-selling tidak hanya meningkatkan nilai transaksi rata-rata, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan tingkat pembelian ulang dan retensi pelanggan.

Dengan menawarkan produk tambahan yang relevan, pelanggan cenderung kembali dan melakukan pembelian berulang. Hal ini berujung pada peningkatan Customer Lifetime Value (LTV) dan penurunan biaya akuisisi pelanggan, yang pada akhirnya meningkatkan profitabilitas bisnis.

4. Memenuhi Kebutuhan Pembelian yang Komprehensif

Produk seringkali berada dalam suatu sistem, di mana satu produk utama di pusatnya dan produk tambahan yang bersifat utilitarian atau pelengkap ada di sekitarnya.

Misalnya, pembeli smartphone biasanya membutuhkan aksesori seperti casing, pelindung layar, dan paket penggantian untuk merasa lebih aman dengan pembelian mereka. Produk tambahan ini sering kali tidak memiliki kegunaan di luar konteks pembelian utama, tetapi menjadi sangat berharga dalam konteks tersebut.

Inilah sebabnya produk tambahan seperti headphone Bluetooth atau dudukan mobil sering kali dibeli bersamaan dengan smartphone, karena mereka dianggap sebagai pembelian impulsif yang lebih mungkin dibeli bersamaan daripada secara terpisah.

Baca juga: Bagaimana Siklus Penjualan Dapat Meningkatkan ROI

Strategi Menerapkan Cross Selling

Untuk mendapatkan hasil maksimal dari strategi cross selling, bisnis perlu menerapkan metode yang tepat berdasarkan data pelanggan dan analisis perilaku. Berikut beberapa strategi terbaik yang dapat digunakan:

1. Menerapkan Strategi Cross Selling dengan CRM

CRM (Customer Relationship Management) adalah alat penting dalam strategi cross selling karena memungkinkan bisnis untuk mengelola data pelanggan secara lebih efektif.

Dengan CRM, perusahaan dapat:

  • Melacak riwayat pembelian pelanggan untuk menawarkan produk yang relevan.
  • Menggunakan analisis data untuk mengidentifikasi pola belanja dan kemungkinan kebutuhan tambahan pelanggan.
  • Mempersonalisasi rekomendasi produk berdasarkan kebiasaan pembelian pelanggan.
  • Memantau respons pelanggan terhadap penawaran cross selling untuk menyempurnakan strategi ke depan.

Misalnya, jika pelanggan sering membeli laptop dari suatu brand, sistem CRM dapat merekomendasikan aksesoris seperti mouse wireless, keyboard eksternal, atau cooling pad sebagai penawaran tambahan. Dengan menggunakan pendekatan berbasis data, cross selling menjadi lebih efektif dan meningkatkan kemungkinan konversi.

2. Menggunakan AI dan Machine Learning untuk Rekomendasi Produk Tambahan

Teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) telah mengubah cara bisnis dalam memahami pelanggan. Dengan algoritma yang cerdas, AI dapat menganalisis pola pembelian pelanggan dan memprediksi produk tambahan yang paling relevan.

Beberapa manfaat AI dalam strategi cross selling meliputi:

  • Analisis pola belanja secara otomatis untuk mengidentifikasi kombinasi produk yang sering dibeli bersama.
  • Prediksi kebutuhan pelanggan berdasarkan riwayat transaksi dan interaksi sebelumnya.
  • Rekomendasi produk yang lebih akurat melalui teknik pembelajaran mesin.
  • Misalnya, platform e-commerce seperti Amazon dan Shopee menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi seperti “Pelanggan yang membeli produk ini juga membeli…”, yang secara tidak langsung meningkatkan efektivitas cross selling.

3. Menyesuaikan Cross Selling Berdasarkan Customer Journey

Tidak semua pelanggan berada pada tahap yang sama dalam customer journey. Oleh karena itu, strategi cross selling harus disesuaikan dengan posisi pelanggan dalam perjalanan mereka.

Dengan menyesuaikan strategi cross selling di setiap tahap, bisnis dapat meningkatkan peluang sukses dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan.

Misalnya pada tahap Awareness (Kesadaran) pendekatan melalui konten edukasi, tahap Consideration (Pertimbangan) dengan promo atau bundling, tahap Decision (Keputusan) memberikan rekomendasi, dan tahap Loyalty (Loyalitas) dengan menawarkan program loyalty.

4. Mengoptimalkan Cross Selling dengan Behavioral Segmentation

Segmentasi pelanggan berbasis perilaku (behavioral segmentation) memungkinkan bisnis untuk menawarkan produk tambahan yang lebih relevan berdasarkan bagaimana pelanggan berinteraksi dengan merek Anda.

Misalnya, pendekatan dibedakan berdasarkan frekuensi pelanggan berbelanja, produk apa yang dibeli, dan juga lokasi pembeli.

5. Meningkatkan Konversi dengan Dynamic Pricing dalam Cross Selling

Dynamic pricing adalah strategi di mana harga produk berubah berdasarkan faktor tertentu, seperti permintaan pasar, profil pelanggan, atau waktu pembelian.

Dalam cross selling, teknik ini dapat digunakan untuk meningkatkan konversi dengan cara menawarkan diskon khusus, membuat paket bundling, hingga menyesuaikan harga berdasarkan loyalitas pelanggan.

Contohnya, aplikasi pemesanan makanan seperti GoFood atau GrabFood sering memberikan penawaran seperti “Tambah minuman dengan diskon 30%” untuk mendorong cross selling dengan dynamic pricing.

6. Memanfaatkan Omnichannel Strategy untuk Konsistensi Penawaran Cross Selling

Omnichannel memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan pengalaman yang konsisten di berbagai saluran komunikasi, termasuk website, aplikasi mobile, email, WhatsApp, dan media sosial.

Misalnya, pelanggan yang melihat sepatu di website bisa mendapatkan rekomendasi produk tambahan di email atau WhatsApp mereka, mendorong mereka untuk menyelesaikan pembelian dengan cross selling.

7. Menggunakan A/B Testing untuk Mengukur Efektivitas Cross Selling

A/B Testing adalah metode yang digunakan untuk membandingkan dua strategi cross selling dan menentukan mana yang lebih efektif dalam meningkatkan konversi.
Dengan melakukan A/B Testing secara rutin, bisnis dapat terus mengoptimalkan strategi cross selling mereka dan meningkatkan efektivitasnya.

H2: Kelebihan dan Kekurangan Cross Selling
Penerapan cross selling dalam bisnis dapat memberikan banyak manfaat, mulai dari peningkatan pendapatan hingga optimalisasi manajemen pelanggan. Namun, jika tidak diterapkan dengan strategi yang tepat, metode ini juga bisa menimbulkan risiko, seperti penurunan kepercayaan pelanggan atau pengelolaan stok yang tidak efisien.

Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan dari strategi cross selling yang perlu diperhatikan sebelum menerapkannya.

Kelebihan Cross Selling

1. Meningkatkan Customer Lifetime Value (CLV) dengan Produk Tambahan yang Relevan

Customer Lifetime Value (CLV) adalah nilai total yang dapat dihasilkan oleh seorang pelanggan selama mereka berinteraksi dengan bisnis.

Dengan menerapkan cross selling yang relevan, bisnis dapat meningkatkan CLV dengan mendorong pelanggan untuk melakukan pembelian tambahan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Misalnya, pelanggan yang membeli laptop mungkin juga membutuhkan mouse wireless atau tas laptop berkualitas. Dengan memberikan rekomendasi produk tambahan yang relevan, pelanggan akan lebih cenderung membeli lebih banyak dalam satu transaksi, sekaligus meningkatkan loyalitas mereka terhadap brand.

2. Mengurangi Biaya Akuisisi dengan Memaksimalkan Pelanggan yang Sudah Ada

Peluang untuk mendapatkan penjualan dari pelanggan yang sudah ada mencapai 60-70%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan baru yang hanya berkisar antara 5-20%. Dengan demikian, strategi cross selling harus menjadi bagian penting dari rencana pemasaran untuk memaksimalkan potensi keuntungan dari basis pelanggan yang sudah ada.

3. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan Melalui Penawaran yang Dipersonalisasi

Ketika pelanggan merasa bahwa brand memahami kebutuhan mereka, mereka lebih cenderung untuk tetap setia. Cross selling berbasis personalisasi dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dengan menawarkan produk tambahan yang sesuai dengan preferensi dan riwayat pembelian mereka.

Sebagai contoh, perusahaan e-commerce seperti Amazon menggunakan teknologi AI dan Machine Learning untuk menawarkan rekomendasi produk yang disesuaikan secara real-time berdasarkan kebiasaan belanja pelanggan.

Hal ini meningkatkan engagement pelanggan dan membangun hubungan jangka panjang dengan brand.

4. Memaksimalkan Efisiensi Stok dan Pengelolaan Produk

Cross selling juga membantu perusahaan dalam mengelola stok dengan lebih efisien. Dengan menawarkan produk tambahan yang sering dibeli bersamaan, bisnis dapat mempercepat perputaran stok dan menghindari masalah overstock atau deadstock.

Misalnya, dalam industri ritel elektronik, penjualan konsol game dapat dikombinasikan dengan aksesori seperti joystick tambahan atau headset gaming, yang membantu mengurangi stok yang berlebihan dan meningkatkan profitabilitas inventaris.

5. Meningkatkan Margins dengan Produk Komplementer Berharga Lebih Tinggi

Cross selling memungkinkan bisnis untuk menawarkan produk komplementer dengan margin keuntungan yang lebih tinggi. Strategi ini sering digunakan dalam industri elektronik, di mana aksesoris seperti garansi tambahan, casing premium, atau layanan instalasi memiliki margin yang lebih besar dibandingkan produk utama.

Sebagai contoh, Apple menerapkan strategi cross selling dengan menjual AirPods, Apple Care, atau Apple Pencil sebagai produk tambahan bagi pelanggan yang membeli iPhone atau iPad, sehingga meningkatkan nilai transaksi dan margin keuntungan per pelanggan.

Kekurangan Cross Selling

1. Risiko Overwhelming Pelanggan dengan Terlalu Banyak Penawaran

Salah satu kesalahan umum dalam cross selling adalah menawarkan terlalu banyak produk tambahan sekaligus, yang bisa membuat pelanggan merasa kewalahan dan akhirnya tidak membeli apa pun.

Misalnya, saat pelanggan berbelanja di e-commerce dan diberikan terlalu banyak rekomendasi produk di halaman checkout, mereka mungkin akan merasa terganggu dan akhirnya membatalkan pembelian atau mengabaikan semua penawaran tambahan.

Solusinya adalah dengan menggunakan data pelanggan untuk menyesuaikan rekomendasi secara relevan, bukan sekadar menawarkan semua produk yang tersedia.

2. Potensi Penurunan Kepercayaan Jika Produk Tambahan Tidak Relevan

Jika bisnis menawarkan produk tambahan yang tidak relevan atau terlihat seperti strategi up selling yang agresif, pelanggan bisa kehilangan kepercayaan pada brand.

Sebagai contoh, jika seseorang membeli sepatu olahraga dan kemudian ditawarkan produk tambahan seperti buku memasak atau peralatan dapur, mereka mungkin merasa bahwa brand tersebut tidak memahami preferensi mereka.

Untuk menghindari hal ini, bisnis harus menggunakan behavioral segmentation dan analisis data untuk memastikan bahwa produk yang ditawarkan dalam strategi cross selling benar-benar relevan dengan pelanggan.

3. Kebutuhan Infrastruktur Data yang Kuat untuk Implementasi yang Efektif

Strategi cross selling yang efektif memerlukan pengumpulan, analisis, dan segmentasi data pelanggan yang baik. Jika bisnis tidak memiliki infrastruktur data yang memadai, mereka mungkin akan kesulitan dalam mengidentifikasi peluang cross selling yang optimal.

Investasi dalam CRM yang canggih, AI, dan analitik data diperlukan agar strategi cross selling dapat berjalan dengan maksimal. Bisnis yang masih mengandalkan pendekatan manual mungkin akan menghadapi keterbatasan dalam personalisasi penawaran dan pengelolaan stok yang lebih efisien.

4. Memerlukan Strategi Pelatihan Tim Sales agar Tidak Terlalu Agresif

Dalam bisnis yang melibatkan interaksi langsung dengan pelanggan, seperti ritel, perbankan, atau layanan B2B, tim sales sering kali berperan dalam menawarkan produk tambahan melalui cross selling.

Namun, jika tim sales tidak terlatih dengan baik, mereka mungkin akan terdorong untuk terlalu agresif dalam menjual produk tambahan, yang bisa membuat pelanggan merasa tidak nyaman.

Solusinya adalah dengan memberikan pelatihan kepada tim sales mengenai teknik soft-selling dan cara memahami kebutuhan pelanggan, sehingga strategi cross selling terasa lebih natural dan tidak memaksa.

5. Meningkatkan Risiko Stok Mati Jika Cross Selling Tidak Diterima Pasar

Jika produk tambahan yang ditawarkan dalam cross selling tidak sesuai dengan tren pasar atau preferensi pelanggan, bisnis dapat mengalami masalah stok mati (deadstock).

Misalnya, jika sebuah toko elektronik mencoba menjual model headphone lawas sebagai produk tambahan untuk smartphone terbaru, tetapi pelanggan lebih tertarik pada model terbaru yang lebih kompatibel, maka stok headphone lama akan tetap menumpuk dan sulit terjual.

Untuk mengatasi masalah ini, bisnis perlu menganalisis tren permintaan secara berkala dan memastikan bahwa produk yang ditawarkan dalam cross selling benar-benar memiliki nilai bagi pelanggan.

new cta_crm_116

Peran Barantum CRM dalam Meningkatkan Cross Selling

Dengan menggunakan Barantum CRM, perusahaan dapat lebih efektif dalam melakukan cross selling dengan mengetahui kebutuhan pelanggan dan menawarkan produk atau layanan tambahan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

1. Personalisasi Penawaran Berdasarkan Riwayat Pembelian

Salah satu tantangan terbesar dalam cross selling adalah memastikan bahwa produk tambahan yang ditawarkan benar-benar relevan dengan kebutuhan pelanggan.

Barantum CRM memungkinkan bisnis untuk melakukan personalisasi penawaran berdasarkan riwayat pembelian pelanggan, sehingga setiap rekomendasi produk menjadi lebih kontekstual dan menarik bagi pelanggan.

Dengan menyimpan dan menganalisis data transaksi sebelumnya, CRM dapat mengidentifikasi pola pembelian pelanggan dan memberikan rekomendasi produk yang sesuai.

Sebagai contoh, jika pelanggan membeli laptop, sistem dapat secara otomatis menyarankan aksesoris seperti tas laptop, mouse wireless, atau cooling pad.

2. Automasi Rekomendasi Produk Tambahan

Tanpa sistem yang otomatis, proses cross selling bisa menjadi tidak efisien dan memakan banyak waktu, terutama jika harus dilakukan secara manual oleh tim sales atau customer service.

Barantum CRM mengotomatiskan rekomendasi produk tambahan, memungkinkan bisnis untuk menawarkan produk yang sesuai secara real-time tanpa harus bergantung pada interaksi manual.

Teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning yang tertanam dalam sistem memungkinkan CRM untuk menganalisis pola pembelian pelanggan dan menyajikan rekomendasi yang lebih akurat.

Sebagai contoh, setelah pelanggan membeli printer, CRM dapat secara otomatis mengirimkan penawaran tinta printer atau kertas khusus melalui email atau WhatsApp.

Dengan automasi ini, proses cross selling menjadi lebih efisien dan mengurangi ketergantungan pada intervensi manusia, yang pada akhirnya meningkatkan tingkat keberhasilan penjualan tambahan.

3. Segmentasi Pelanggan Berdasarkan Perilaku dan Pola Pembelian

Tidak semua pelanggan memiliki kebutuhan yang sama, sehingga strategi cross selling harus disesuaikan berdasarkan segmen pelanggan yang tepat. Barantum CRM memungkinkan bisnis untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan perilaku belanja, preferensi produk, serta pola transaksi mereka.

Dengan menggunakan fitur segmentasi yang canggih, bisnis dapat mengidentifikasi kelompok pelanggan yang memiliki kecenderungan untuk membeli produk tambahan tertentu.

Misalnya, pelanggan yang sering membeli produk skincare anti-aging dapat dimasukkan dalam segmen “Pelanggan Anti-Aging”, sehingga CRM dapat secara otomatis menawarkan produk pelengkap seperti serum vitamin C atau sunscreen khusus kulit dewasa.

Segmentasi ini tidak hanya meningkatkan relevansi penawaran tetapi juga memperbesar peluang konversi, karena pelanggan mendapatkan rekomendasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

4. Meningkatkan Efisiensi Tim Sales dengan Panduan Cross Selling

Tim sales sering kali menghadapi tantangan dalam menawarkan produk tambahan kepada pelanggan, terutama jika mereka tidak memiliki informasi yang cukup tentang kebutuhan pelanggan atau strategi cross selling yang efektif.

Barantum CRM membantu tim sales dengan menyediakan panduan berbasis data yang memungkinkan mereka untuk menawarkan produk tambahan dengan lebih percaya diri.

Dengan fitur analisis pelanggan secara real-time, tim sales dapat melihat informasi lengkap mengenai preferensi pelanggan, riwayat pembelian, serta rekomendasi produk yang dapat ditawarkan.

Selain itu, CRM juga menyediakan fitur task dan reminder otomatis, memastikan bahwa tim sales dapat menindaklanjuti pelanggan dengan strategi cross selling yang tepat waktu.

Misalnya, jika seorang pelanggan baru saja membeli software bisnis, sistem dapat memberi tahu tim sales untuk menawarkan layanan onboarding atau fitur tambahan yang relevan. Dengan demikian, tim sales dapat bekerja lebih efisien dan meningkatkan tingkat keberhasilan cross selling tanpa harus melakukan pendekatan yang agresif.

5. Menganalisis Performa Cross Selling dengan Laporan dan Analitik

Tanpa data yang jelas, sulit bagi bisnis untuk mengetahui apakah strategi cross selling yang mereka terapkan benar-benar efektif. Barantum CRM menyediakan fitur laporan dan analitik yang membantu bisnis dalam mengevaluasi performa strategi cross selling mereka.

Dengan dashboard analitik real-time, bisnis dapat melacak produk tambahan mana yang paling sering dibeli pelanggan setelah pembelian utama, serta mengidentifikasi segmen pelanggan yang paling responsif terhadap cross selling.

Selain itu, sistem juga dapat menunjukkan rasio konversi dari setiap kampanye cross selling, sehingga bisnis dapat menyesuaikan strategi mereka berdasarkan data aktual.

Misalnya, jika data menunjukkan bahwa pelanggan yang membeli produk elektronik lebih sering membeli paket garansi tambahan dibandingkan aksesoris lainnya, bisnis dapat lebih fokus pada promosi garansi tersebut.

Dengan pendekatan berbasis data ini, bisnis dapat terus mengoptimalkan strategi cross selling mereka untuk hasil yang lebih maksimal.

6. Menggunakan Omnichannel untuk Meningkatkan Efektivitas Cross Selling

Strategi cross selling yang sukses tidak hanya mengandalkan satu saluran komunikasi saja, tetapi harus diterapkan secara omnichannel, sehingga pelanggan dapat menerima rekomendasi produk tambahan di berbagai platform.

Barantum CRM memungkinkan bisnis untuk mengelola strategi cross selling secara terintegrasi di berbagai kanal komunikasi, seperti WhatsApp, email, telepon, media sosial, hingga website. Dengan pendekatan ini, pelanggan dapat mendapatkan pengalaman yang lebih konsisten dan tidak merasa terganggu dengan penawaran yang tidak relevan.

Sebagai contoh, pelanggan yang sebelumnya melihat produk tertentu di website tetapi tidak langsung membeli dapat menerima rekomendasi cross selling melalui email atau WhatsApp beberapa hari kemudian dengan diskon khusus.

Strategi ini membantu meningkatkan engagement pelanggan dan meningkatkan kemungkinan mereka melakukan pembelian tambahan.

Dengan memanfaatkan omnichannel marketing yang didukung oleh Barantum CRM, bisnis dapat memperluas jangkauan strategi cross selling mereka dan memastikan bahwa pelanggan mendapatkan pengalaman belanja yang lebih seamless dan personal.

Baca juga: 20 Rekomendasi Software Aplikasi CRM Terbaik Indonesia

Tingkatkan Performa Cross Selling dengan Software CRM Sekarang!

Mockup Sistem Barantum

Dengan menggunakan software CRM, Anda dapat mengumpulkan dan menganalisis data pelanggan secara lebih efektif, memungkinkan Anda untuk membuat penawaran yang lebih relevan dan tepat sasaran.

Barantum, sebagai penyedia software CRM membantu Anda menjaga hubungan yang lebih personal dengan pelanggan, sehingga cross selling terasa lebih alami dan diterima dengan baik oleh mereka.

Ini memungkinkan bisnis Anda untuk memberikan nilai lebih pada setiap interaksi, membangun loyalitas yang lebih kuat, dan pada akhirnya, meningkatkan performa penjualan secara signifikan.

Memanfaatkan CRM dalam strategi cross selling bukan hanya tentang peningkatan penjualan, tetapi juga tentang menciptakan hubungan yang lebih dalam dan berkelanjutan dengan pelanggan.

Referensi:

  • https://www.revou.co/kosakata/cross-selling
  • https://www.pipedrive.com/en/blog/cross-sell-vs-upsell
  • https://segment.com/growth-center/cross-selling/benefits/

Tertarik dengan Barantum?

all product
Barantum adalah penyedia solusi aplikasi CRM, Omnihannel Chat, Call Center Software dan WhatsApp Business API terbaik di Indonesia. Segera konsultasi kebutuhan bisnis Anda dengan tim profesional kami.